Posts tagged ‘cerpen kisah anak berbakti pada orang tua’

26 Juni 2012

Cerpen islami – KI ABDUL

oleh Ucup budug

image

Di sebuah desa kecil terpencil sedikit lagi mendekati gunung.

“Ibu, Ayah mana!”. Tanya abdul pada ibunya. “Paling-paling ayahmu lagi main sabu ayam di kampung sebelah”, Jawab ibu abdul sembari kesal. Entah, sejak kapan ayah Abdul mulai menggilai judi, Abdul masih sangat kecil, dia sama sekali belum mengerti apa itu judi! yang abdul tahu judi adalah sebuah pekerjaan, Abdul sangat senang jika mendengar apa lagi menyaksikan Ayahnya bermain sabu ayam, yang juga Ayam kesayangannya.

Tak banyak yang dapat di lakukan jika gelap mulai tiba di kampung ini, selain bercengkrama dengan keluarga mungkin bergegas tidur agar dapat cepat menjumpai hari berikutnya. Hari pun berganti dan terus berganti merubah keadaan keluarga Abdul yang sederhana menjadi serba kekurangan, sedikit demi sedikit barang-barang yang sempat menghiasi rumah, terpaksa habis sebagai modal usaha Ayah abdul, ya begitulah yang dapat di tangkap pemikiran abdul, judi adalah pekerjaan. Kini untuk sekedar senyum saja sangat sulit abdul dapatkan, hanya jeritan-jeritan ibunya yang merintih, menuntut pada Ayahnya, hari ini kita mau makan apa! Apa yang mau kita masak! Dan lainnya. Di balik tirai dari rumah jika tak pantas di katakan gubuk, Abdul sesekali meng-intip pertengkaran ke-dua orang tuanya. Apa lagi jika bukan sesak, perih dan pedih yang dapat Abdul rasakan.

Layaknya anak-anak kecil yang lain, Abdul sangat menyukai permainan sepak bola, main perang-perangan menggunakan pistol dari bahan dasar tangkai pohon pisang, dan lainnya. Setiap hari memang di luar sana ada tawa, bercanda gurau bersama teman di kebun atau pinggir pesawahan, namun ada benak yang selalu terlintas dalam pikirannya. Ibu, ya ibu. Ketika masih bermain bersama temannya hingga kini dalam perjalanan menuju pulang ke rumah Abdul selalu membayangkan tangisan ibunya, karena itu walau kadang dia bertanya “Ibu, aku lapar!” tapi dia tetap mencoba menahan dan mengerti, Abdul sangat mencintai ke-dua orang tuanya. Abdul tak mau menambah kesedihan keluarganya, mencoba lepas apa adanya.

“Ini kan uang…”. Tanpa sengaja Abdul menemukan selembar uang kertas Rp.50 ribu (Jika dalam nominal sekarang), Abdul senang amat sangat Bergegaslah dia pergi ke pasar, jaraknya sangat jauh, memang, namun tak setara dengan perasaan senang yang kini sedang dia rasakan. Sesampainya di pasar, di belinya beberapa liter beras beserta sayur dan lauknya. Uang itu pun masih ada sisa, namun Abdul sedikit bingung untuk beli apa lagi uang ini! Jika di berikan pada ibu pasti di pinta Ayah, pastinya akan habis di pakai main judi lagi. Terus di pikirkannya sebelum akhirnya dia mendapatkan ide “Ah, mending aku belikan pancingan saja biar nanti aku mancing, dapat ikan, ayah ibu bisa senang”.

Cepat berjalan abdul pulang, rasanya tak sabar ingin cepat sampai rumah menikmati masakan enak buatan ibu yang sudah beberapa bulan ini jarang dia temukan. “Ibu…ibu…ibu…Ayah, lihat apa yang abdul bawa.” Ibu dan Ayah abdul yang sedang bermalas-malasan di bale depan rumah, terkejut senang bercampur curiga dan marah “Dapat dari mana kamu dul beras, sayur dan lauk ini? Kamu mencuri ya? Abdul, walaupun kita dari keluarga serba kekurangan, tapi kita ini bukan dari turunan keluarga pencuri.” Akhirnya setelah lama di berikan penjelasan, kedua orang tua abdul pun mengerti.

Menikmati makan malam di saat lapar memuncak bersama keluarga sangat membahagiakan hati sampai kantuk kian terasa karena lahapnya.”Ibu..Abdul, ijin pergi ke sungai dulu ya, abdul ingin mancing ikan biar kita bisa makan enak lagi, do’akan ya ibu biar pulang nanti Abdul bawa ikan yang banyak.” Sekitar pukul empat pagi abdul bergegas pergi ke sungai yang jaraknya tak cukup jauh dari rumahnya, hanya 3 km. Sesuai harapan dan do’a ibunya alhasil hasil tangkapannya sangat memuaskan, ikan tersebut separuhnya di tukar dengan beras di pasar. Sampai di rumah kembali kedua orang tua Abdul bahagia. “Abdul, kalau begitu setiap hari kamu harus selalu memancing ikan ya dul, kamu tak mau kan lihat Ayah dan ibu kelaparan!”. “Iya…ayah” Jawab Abdul karena memang dia sangat ingin mengembalikan senyuman kedua orang tuanya lama tak dia lihat lagi.

Sungai, Pasar, makan, tidur. Itulah hari-hari Abdul saat itu. Sampai di suatu hari tepatnya di hari Jumat di suatu sungai yang berbeda. Abdul yang sedang asik memancing ikan tiba-tiba ada dua orang pemuda berpakaian aneh menghampiri Abdul dan bertanya “Adik, kamu dari mana? kelihatannya Adik bukan dari kampung sini ya!”

Abdul : “Iya, Aku dari kampung sebrang kakak, aku menumpang memancing di sini ya kakak!”
Pemuda : “Oh iya silahkan, tapi. Bukannya anak seusia kamu itu jam segini seharusnya masih di sekolah ya adik?”
Abdul : “Aku tidak sekolah kakak, jangankan untuk sekolah, untuk makan saja susah, makanya aku setiap hari pergi memancing agar keluargaku setiap hari bisa bertemu makan”
Pemuda : “Subhanallah…Oya, kalau begitu kamu ikut kakak ke pesantren ya, mau tidak? Siapa nama kamu adik?”.
Abdul : “Namaku Abdul, Pesantren! Apa itu kak?”
Pemuda : “Pesantren itu tempat untuk mencari ilmu dunia maupun akhirat, ya lebih sama halnya mengaji, kamu suka mengaji kan Dul?”
Abdul : “Mengaji?! Aku tidak mengerti kak, apa itu mengaji?”
Pemuda : “Subhanallah…Memang orang tua kamu tidak pernah mengajarkannya Dul! Mengaji itu mencari ilmu, ilmu itu wajib kita pelajari agar kita tidak mudah di bodohi juga agar kita dapat hidup bahagia maupun di akhirat, kamu ingin bahagiakan dul? Nah, kamu harus mengaji, kamu islam kan dul?”

Sejak lahir Abdul tidak pernah mengenal apa yang yang harus di lakukan dalam agamanya, dia hanya tahu agamanya adalah islam, dia ingat waktu lalu ibunya pernah bilang itu padanya. Sama halnya dengan Ayah dan semua orang di kampungnya, mereka hanya mengenal nama Agamanya tanpa mengenalinya lebih jauh. Wajar perjudian, Sex bebas, mabuk-mabukan adalah pemandangan yang tak lagi asing di kampungnya.

Pemuda : “Bagaimana Abdul? Apakah kamu mau, di sana asik loh, banyak teman”
Abdul : “Tapi kakak… Jika aku ikut ke pesantren, nanti bagaimana dengan Ayah dan ibuku! Mereka pasti jarang makan lagi, aku ingin lihat kedua orang tuaku selalu bahagia kakak”
Pemuda : “Subhanallah…Sungguh mulia cita-citamu dul, masih kecil sudah berpikir jauh seperti itu. Ya sudah, bagaimana jika kamu mau mengaji di pesantren nanti kamu setiap hari kakak kasih makanan yang enak, nanti boleh kamu bawa pulang ke rumah. Bagaimana!”
Abdul : “Beneran! Iya kakak, aku mau”
Pemuda : “Benaran lah dul, ya sudah sekarang kita mandi, lalu kita pergi sholat jumat, kamu tidak tahu sholat kan? Ayo nanti juga kakak kasih tahu”

Sesampai di masjid, Abdul merasa aneh melihat orang-orang berbondong-bondong memasuki masjid yang di anggapnya rumah megah itu dengan pakaian yang di rasakannya aneh. Pemuda tersebut hanya menyuruh Abdul duduk di halaman luar mesjid. Dia lihat, dia dengar, dia rasakan suara-suara asing itu (Adzan, khutbah) dengan penuh penghayatan, semakin terdengar semakin menyayat hati, menyentuh bhatinnya, dia merasakan sesuatu yang terindah yang belum pernah dia temui sebelumnya. Bhatinnya semakin kuat “Abdul ingin mengaji”.

“Abdul…!” tegur pemuda tadi mengejutkan abdul yang sedang menyaksikan orang-orang di dalam mesjid pulang. “Kakak…itu tadi di dalam ada acara apa?” pemuda pun memberikan sedikit penjelasan pada Abdul. Abdul pun bergegas pulang untuk meminta ijin pada kedua orang tuanya, dia sangat tak sabar bertemu hari esok, hari di mana merasakan dunia barunya, dunia pesantren.

Abdul bernyanyi dengan riang mengiringi langkah kakinya menuju pulang, Dia sangat tak sabar ingin cepat sampai rumah. Sampai di rumah “Duuul… Mana ikan tangkapanmu hari ini? Ayah sama ibu sudah lapar banget nih”. Tanya Ibu abdul yang sedang asik memijit Ayahnya di bale bambu depan rumah dengan muka kusam. “Ma..maaf ibu..maafkan abdul ayah, hari ini Abdul tak dapat ikan! Ta..ta..tadi Abdul” belum sempat Abdul menjelaskan semuanya, Mulut abdul seperti terkunci di kejutkan dengan kemarahan Ayahnya secara tiba-tiba “Dul..Abdul..Ngapain saja kamu di sana? Perut Ayah sama ibu Sampai kerut nunggu kamu di sini, eh pulang tanpa hasil, sial, dasar anak tak berguna”. Sambil menangis Abdul masuk ke kamar, dia merasa sudah menjadi anak yang sangat tak berguna untuk kedua orang tuanya, dia sangat menyesali itu, dia ingin sekali menjadi anak yang sangat berguna bagi kedua orang tuanya.

Sampai tiba gelap, sehabis waktu maghrib. Abdul beranjak dari kamarnya untuk menemui Ayah dan ibunya, Dia sadar Ayah dan ibunya sedang marah tapi pikiran yang telah menghasutnya terus menerus itu semakin membulatkan tekadnya.

Abdul : “Ayah, ibu.. Masih marah sama Abdul? Maafin Abdul ya!”
Ayah : “Tidak nak, Ayah dan ibu sudah memaafkanmu, kan masih ada hari esok”

Abdul merasa lega, rasanya inilah waktu yang tepat untuk menyampaikan keinginannya.

Abdul : “Ayah, ibu jangan marah ya! Besok Abdul berhenti memancing, Abdul ingin Menuntut ilmu di pesantren”

“Tidak..tidak..tidak boleh, pokoknya kamu harus terus memancing, mau ngapain kamu di pesantren! Tak ada gunanya dul” Ayahnya kembali emosi. Ayah abdul begitu pun ibunya sangat tidak menyetujui hasrat putranya yang baik itu. Mereka takut tidak bisa makan, mereka pemalas, tidak mau kerja padahal mereka masih cukup kuat, ya hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan abdul mereka dapat makan.

Abdul : “Tidak, Ayah ibu. Keputusan Abdul sudah bulat, besok pagi Abdul akan pergi ke pesantren untuk menuntut ilmu, Abdul ingin menjadi orang pintar”

Abdul menceritakan semua kejadian siang tadi ketika bertemu dua pemuda kepada kedua orang tuanya. “Halaah..jangan di percaya dul, Mereka sok tahu, mereka pembohong! yang penting itu cari makan bukan cari ilmu, memangnya dengan ilmu kamu bisa kenyang?” timpal Ayah dan ibunya sembari teramat kesal dengan keinginan Abdul yang memang menurut mereka sangat tidak baik. Walaupun Abdul masih kecil dan polos belum begitu mengetahui mana yang baik dan benar. Abdul sudah sangat bisa merasakannya jika di pesantren dia akan lebih baik.

“Ya terserahlah, masa bodo terserah kamu saja dul…” Ayah dan ibunya sudah tak bisa membendung niat abdul lagi, walau mereka selalu terpikir “Waduh besok mau makan apa! Bisa mati deh!

Pagi-pagi sekali Abdul berangkat menuju pesantren yang letaknya cukup jauh dari kampungnya, walau sedikit marah ayahnya memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi Abdul, Sehelai sarung penuh corak (tambalan) sebagai bekalnya di pesantren. Begitu tiba di pesantren, Abdul langsung menanyakan nama “Kakak Ucup dan Kakak Roni” pemuda yang dia temui kemarin, di sini sangat ramah, Abdul pun langsung di antar menemui dua pemuda tersebut. “Assalamualaikum, kaifha haluk abdul..! Akhirnya kamu mau datang juga, syukurlah” Abdul tak begitu mengerti apa yang katakan Pemuda itu, dia belum mengerti Salam. Abdul pun langsung di ajak menemui Ajengan (Guru besar, Kyai pemilik pesantren).

“Assalamualaikum kyai, ini Abdul, dari Kampung sebrang, dia ingin menuntul ilmu di sini”, Namanya KH.Aceng saepudin beliau adalah seorang guru besar sekaligus pemilik pesantren di sini, beliau sangat antusias menyambut niat Abdul yang begitu besar itu, dan sekarang Abdul sudah resmi menjadi salah satu santri di pesantren ini. Pesantren ini tak begitu megah seperti yang kita lihat biasanya (Di jaman modern seperti sekarang). “Dul, untuk sementara kamu di sini tiap pagi hari sebelum waktu shubuh wajib mengisi penuh air ke bak mandi, airnya dapat kamu ambil dari sungai di sana”. Abdul mengangguk, walau pun itu terasa berat namun tak berarti mematahkan niatnya. “Iya kyai” jawab ucup.

Hari menunjukan waktu dzuhur, semua santri berbondong-bondong menuju mesjid yang masih satu bagian dari pesantren, Abdul hanya bisa menyaksikan di balik jendela kamar barunya, dia ingin pergi ke tempat itu namun apa daya, dia belum mengerti apa-apa tentang maksud sholat.

“Kak Ucup.. Tadi itu ngapain semua orang di sini menuju tempat itu?” tanya Abdul dengan heran, Kak Ucup pun tersenyum kecil sambil menjelaskan “Yang tadi itu melakukan ibadah sholat, nah  kita sebagai umat islam yang beriman di perintahkan Allah SWT untuk wajib melaksanakan ibadah sholat, jika di tinggalkan hukumnya dosa dan pasti masuk neraka, kamu tahu neraka tidak Dul? Neraka itu suatu tempat yang sangat menyeramkan, tempat untuk menjalani siksaan bagi yang tidak menuruti perintah Allah SWT, Di sana ada ular besar, api yang sangat panas untuk membakar orang yang sudah berdosa dan lainnya, kamu mau tidak masuk neraka dul? Tidak kan, makanya kamu juga harus sholat ya dul tidak lama kok”.

Pagi-pagi sekali Abdul sudah sudah menuju sungai, mengambil air untuk kelak di isi ke bak mandi pak kyai dan bak tempat para santri berwudhu. Selesai mengisi penuh semua bak, Abdul di berikan sebungkus makanan untuk sarapan, begitu di buka, Abdul tiba-tiba teringat Ayah dan ibunya di rumah “Ayah dan ibu di rumah pasti belum makan, ah mending aku bungkus lagi saja buat ayah dan ibu”. Diam-diam abdul pun pulang menuju rumah dan kembali ke pesantren secepatnya. Begitulah yang di lakukan Abdul setiap kali mendapatkan makanan. Dia tak peduli dirinya lapar yang penting bisa melihat Ayah ibunya dapat makan, dia cukup kenyang dan senang. Di balik itu semakin malaslah Ayah dan ibu Abdul di rumah, merasa ke-enakan ada yang mencarikan makan. “Nah gitu dong dul, ini baru anak Ayah, pokoknya setiap kali kamu punya makanan langsung kirim ke sini ya dul”.. Ucap Ayahnya Abdul.

3 bulan sudah Abdul diam di Pondok pesantren, selain mengisi bak air dia hanya tidur-tiduran dan melihat-lihat kegiatan di pondok pesantren, Semakin hari dia semakin merasa aneh di sini, dia hanya bisa sedikit bacaan sholat dan mengerjakannya, itupun di ajari kak ucup di waktu senggang di dalam kamar, dia pun langsung menemui Ajengan…

Abdul : “Assalamualaikum pak kyai…”
Kyai : “Wa’alaikum salam wr.wb..Ya, ada apa Dul!”
Abdul : “Pak kyai, Kapan Abdul bisa ikut mengaji seperti santri lainnya? Kan Abdul juga ingin bisa pak kyai”
Kyai : “Belum saatnya Dul…”

Abdul pun kembali ke kamarnya, di cobanya untuk tetap sabar. Dia dengar di kamar sebelah ada yang sedang mengaji bersama, Abdul pun hanya bisa menguping dari balik dinding kamarnya yang terbuat dari bilik itu, setiap kali ada pengajian dia hanya mendengarkannya dari jauh, mendengar, dan merasakannya. Hanya itulah yang di lakukan Abdul semasa di pesantren tanpa pernah ikut pengajian secara langsung. Sampai tiba di Acara tahunan, ini tahun ke 10 Abdul berada di pesantren ini tepatnya di usianya yang ke 19 tahun di sini para santri di kumpulkan untuk kelak di pertanyakan apa saja dan sampai mana pengetahuan yang sudah di dapat selama di pesantren. Begitu pak kyai menyebutkan nama Abdul, semua santri tertawa terbahak, hampir semua santri meledek Abdul. “Astagfirullah… Semuanya diam.” Tegur pak kyai, Sontak semuanya terdiam namun tak sedikit dari mereka tersenyum kecil dan saling membicarakan Abdul. Pak kyai pun kembali bertanya pada Abdul “Dul… Apa yang kamu pelajari di sini? Sudah berapa kitab yang kamu kaji, Coba jelaskan semuanya?”. Dan kembali semua santri tertawa terbahak, ada yang bilang Tukang Air, tukang tidur dan ada juga yang bilang bodoh kepada Abdul. Namun suasana pun menjadi hening dalam seketika, begitu mendengarkan jawaban Abdul. Dari Ilmu Fiqih sampai ilmu nahwu dia hafal semuanya, dari kitab jurumiah sampai Alfiah Abdul pun dapat menjelaskan isi dan maknanya dengan baik. “Subhanallah…inilah bukti kemuliaan dan kebaikan Allah SWT kepada orang-orang yang sabar dan ikhlas, Allah SWT akan selalu mencintai Orang-orang yang sabar dan memberi berkahnya“. Sambut pak kyai kepada semua santri, usai mendengarkan Abdul. “Dul…di kampung sana ada pondok pesantren nananya Ponpes Assyifa, pemiliknya adalah KH.Herman Abdullah, beliau adalah Mama buya, Guru dari kyai sewaktu mengaji. Karena di sini kyai rasa cukup, cobalah kamu pergi ke sana untuk mempelajari ilmu lebih dalam”. “Insyaallah kyai”. Sore itu pun Abdul ijin pulang untuk menemui orang tuanya dan menyampaikan berita baik ini.

Di bale rumah sambil menikmati makanan bawaan Abdul dari pesantren yang sedikit lebih banyak dan lezat.

Abdul : ” Ayah ibu.. Ini hari terakhir Abdul tinggal di pesantren itu, Abdul akan pindah ke Pondok pesantren lain, ini pun perintah Pak kyai”
Ayah : “Waduh, jangan mau Dul nanti di tempat yang baru tak akan seperti ini, sudah lebih enak di situ, Ayah sama ibu jadi bisa makan tiap hari”. Ayah dan ibu Abdul hanya mementingkan diri sendiri.
Abdul : “Insyaallah di sana juga sama saja, kalau ada makanan Abdul janji akan langsung kirim kerumah”

Tak lama Abdul pun lekas kembali ke pesantren. Hari sudah sudah gelap, di balik jendela kamar dia memandangi sudut-sudut pesantren yang esok akan dia tinggalkan, Nyanyian hening malam dan gemuruh lantunan ayat-ayat suci dari balik kamar-kamar santri itu sungguh membuat Abdul tidak kuat untuk meninggalkan pesantren ini, tempat di mana dia mendapatkan sesuatu yang paling berharga bagi dirinya, kebodohan waktu lalu terhapus di sini, di saksikannya bulan dan bintang di atas langit, sungguh Allah maha besar, entah jadi apa jika takdirnya tak pernah ada di sini, di Pondok pesantren ini.

“Allahu akbar..Allaahu Akbar
Ashaduallaa ilaHa’ilallaaah
Ashaduanna muhammadurrosuulullaah
Hayya Alassholaah
Hayya Alalfalaah
Assholaatu khoirum minannauum
Allahu akbar Allahuakbar
Laailaa ha illallaah”

Abdul menangis bersujud usai mengumandangkan Adzan shubuh. Mungkin ini yang terakhir Abdul sholat di mesjid ini, di tempat yang maha suci  yang 10 tahun yang lalu pertama kali menggetarkan hatinya. Usai sholat shubuh dia cepat pergi ke Sungai, berharap dapat mengisi air ke bak sebanyak-banyaknya. Tak terasa matahari mulai terbit mengiri pagi, Kicauan burung kian menambah keindahan pagi. “Dul… Bagaimana, sudah siap!”. “Insya allah kyai”. jawab Abdul pada kyai. Suasana semakin haru, ketika satu persatu para santri memeluk Abdul sebagai lambang perpisahan. Sampai di pintu gerbang Abdul menciumi kembali telapak tangan kyai berulang-ulang.

Kyai : “Dul…di sana pesantrennya tidak seperti ini”
Abdul : “Maksudnya, memang seperti apa kyai!” Abdul menjadi penasaran.
Kyai : “Nanti juga kamu tahu…”
Abdul : “Oh, iya kyai..Assalamuakum!”

Bersambung…

(By Ucupbudug)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 781 pengikut lainnya.